Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Budaya

HUT PUSAR KE 6 TAHUN - MERIAH GAES !!!

Hai Gaes Welcome Back with Me #panjoelmotovlog . Kali ini gue bareng PUSAR ( Purbalingga Street Art ) dalam rangka memperingati HUT PUSAR KE #6 Acara yang digagas oleh komunitas independen ini no budget alias hampir pendanaan dari semua Anggota member. Tak heran gue sebagai Videografer tertarik untuk meliputnya.
Gak tanggung-tanggung gaes Acara tahunan ini mengundang beberapa Street Artist sekaliber Ruru24 yang kita tahu beliau dipercaya mewakili Indonesia di Dubai untuk beberapa Projects Graffiti bersama rekan luar negeri nya. . Langsung cek ke foto aja ya gaes seperti apa keseruannya!











_

Layar Tanjleb Purbalingga | Memperingati Hari Film Nasional

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Memperingati hari Film Nasional Purbalingga menyelenggarakan layar tanjleb, Intine kon pada nonton ya neng Alun - Alun Purbalingga GRATIS...

Biar lebih jelasnya ini saya tampilkan pamfletnya utawa woro - worone berupa gambar...
Cekidot...

Acara kie supported by Pemerintah Kabupaten, Dinas Pendidikan & Kebudayaan lan sanes sanesipun sing ra bisa disebutna siji siji. Kebeneran Filem sing diputer gaweane dewek/ pada pada wonge dewek nek ra percaya deleng bae kae neng pamflet tulisane apik banget mbuh sapa sing gawe, ra genah ya syukur berarti mandan. Kie sedulur aja kesuwen arepan labuh dela maning ayok pada diramekna syukur2 gawa anak bojo, tanggane utawa sing wong enom melu ramekna ben ngerti jebule wonge dewek...asyik.

Cukup semeneh bae lah ya woro-worone nek ora jelas maring tkp bae yuk Alun-Alun Purbalingga jam 7wengi....aja kelalen.

Suwun wis diwaca,,monggo dikabari sing rung weruh.
Salam ngapakers

Wabillahitaufikwalhidayah Wassala…

Purbalingga Moosic Project 2016

#Repost @nfindaa
・・・
[PRE SALE 😱😱😱] ONLY 17k! (23-28 September) Siap-siap buat pesta GLOW IN THE DARK
1 Oktober 2016
di Mahesa Jenar PURBALINGGA "PURBALINGGA MOOSIC PROJECT" is coming to town!
Bakal ada guest star ALFFY REV yang bikin malam minggu kamu jadi kece abis. Mau kan malam minggu kamu di temenin sama abang Alffy Rev? Atau mau seru-seruan bareng bang Alffy Rev? Yuk ahhh beli tiketnyaahh 😊 Bawa teman, bawa pacar, mantan, selingkuhan biar makin seru!!!  More info :
Line : @vwo4611x

Proud To Be Indonesian

Memang pantas jika indonesia dikatakan sebagai negara dengan rakyat paling ramah.

Tadi pagi saya sarapan di sebuah kedai kopi di pasar tradisional kota kijang-bintan, dan saya duduk di sebuah meja bundar yg sudah ada satu org duduk di situ terlebih dahulu karena tidak ada tempat duduk lain saya pun duduk di situ, kemudian datang 3 orang lagi yg tidak saling kenal dan tanpa ragu mereka saling berkenalan dan mengobrol seperti layaknya sudah lama kenal, dan saya pun ikut mengobrol.

Sudah saat nya kita bangga menjadi orang indonesia yg ramah dan cinta damai.

Sumber : Hadian Putra
Foto :Muhammad Faishol Husni

Mahalnya Sebutan Ustad : LekMot, Lek Ocop, Kang Dun.

Guru ngaji pertama saya bernama Lek Mot (lek= paklik, bapak cilik). Nama aslinya Mahmud. Kini almarhum. Profesi utamanya tukang jahit, dan belakangan setelah istri dan anak beliau bisa menjahit, Lek Mot banting profesi jadi sales keliling makanan kecil ke toko-toko kelontong. Muridnya ratusan, dan jadwal ngaji berlangsung di bagian dapur rumahnya yang berdinding gedeg, dengan lampu petromak. Saya biasa mengaji selepas Maghrib hingga sholat Isya datang. Setiap murid seikhlasnya bayar urunan (iuran), yang dari uang yang terkumpul hanya cukup untuk beli lengo gas aka minyak gasoline. Tidak ada listrik di rumah beliau. Saya belajar ngaji di sini sejak mulai alif ba tak, hingga lancar baca Juz Amma.
Sampai beliau meninggal, saya, hampir semua orang di kampung, memanggil beliau cuma dengan sebutan "Lek Mot".

Guru ngaji kedua, masih "berjulukan" lek, tepatnya Lek Ocop (Yusuf). Beliau juga, profesi utamanya sebagai tukang jahit. Secara ekonomi Lek Ocop cukup…

Belajar & Pameran di Ruang Publik : Seni dari rakyat, untuk dinikmati rakyat.

Jika Anda pernah membaca sejarah kesenian Indonesia, mungkin akan mendapati sejarah ketika pertentangan sengit terjadi antara "seni untuk seni" dan "seni untuk rakyat". Bahkan sampai memakan korban jiwa. Slogan yang terakhir itu, Lekra-nya PKI di era 60an, getol memperjuangkannya, yang bahkan mengakali seni sebagai salah satu upaya perjuangan revolusioner (please, jangan menuduh-nuduh yang revolusioner identik dengan PKI). Seni untuk rakyat, bisa memprovokasi sekaligus mengedukasi. Saya secara pribadi, cenderung lebih dekat dengan "seni untuk rakyat" ketimbang "seni untuk seni" yang kian hari kian jadi komoditi kapital mengeruk untung. meski saya gemar datang ke museum atau pameran seni, saya kerap sedih, ketika misalnya lukisan bertema orang melarat "dihidangkan" di ruang-ruang mewah ber-AC, dan disaksikan sambil manggut-manggut orang-orang kaya yang mengincar untung, mencari celah memperdagangkan.

Singapura bisa menjad…

BATU AKIK PURBALINGGA : Tak Akan Mati

Mesti demam watu alias akik mulai surut tidak membuat rekan sekaligus tetangga dekat saya sebut saja Anom Satria berhenti untuk berkarya. Batu Akik Klawing itulah nama yang dikenal baik di masyarakat Purbalingga dan Mancanegara. Akan tetapi, ini merupakan kebanggan sendiri bagi saya karena di tengah pasang surutnya pasar Watu Akik mas Anom tetap memberikan watu watu yang eksotik bahkan tetap diminati.

Sedikit info yang mau atau ingin buat atau melihat prosesi pembuatanya silakan mampir di alamat Kaligondang RT 02/ RW 01 sisanya silakan tanya warga "Dimana rumah mas Anom?"

Pingin tahu lebih lanjut atau liat koleksi batunya, silakan klik nama di atas langsung ke TKP.




Inilah beberapa gambar Watu ter-update yang baru - baru ini saya ambil --->


Jangan Merantau Jika masih Mengguyup Kampung : Saudara, ya orang paling dekat kita

Masih Cuap - Cuap dari Mas Sultan Yohana
=========================================================================

Saya masih begitu ingat, saat pertama gabung main bola dengan warga setempat di tempat tinggal saya yang baru, di Singapura. Hari sudah larut, ketika itu, keringat sudah membanjir, saya pamit stop pada mereka. Lalu kemudian, permainan berhenti sesaat. Mereka satu per satu mendatangi saya.
Ada yang menepuk bahu saya, ada pula yang sekedar salaman. "Welcome to join us, Bro!" salah satunya mengucap begitu, yang lain menggumamkan kalimat serupa. Mengharukan sekali, terutama jika kita tahu, ini Singapura, kota yang warganya dikenal sangat individualistik. Dan mereka tahu saya orang Indonesia, negara yang warganya gemar mengolok-olok dan mengirim masalah pada Singapura. Bahkan istri saya kerap protes pada saya, 'kenapa harus Singapura yang selalu disalahkan, jika ada masalah di Indonesia?'
Sebelumnya, saya berusaha mencari informasi tentang rekan…